Tampilkan postingan dengan label Kids. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kids. Tampilkan semua postingan

14 Juni 2016

Pelajaran di Balik Kisah Meningitis Survivor


Ada perdebatan yang sangat klise yang berulang-ulang muncul di linimasa saya. Perdebatan antar mamah-mamah muda tentang dunia mereka.  Jujur saja saya lelah dengan semua debat kusir apa pun itu temanya.

Mau tentang ibu berkarir vs ibu rumah tangga, atau tentang gaya pengasuhan western-style vs eastern-style, dolphin mom vs tiger mom, memberi vaksin vs antivaksin, apa pun itu. Bagi saya semua sangat menguras pikiran. Bikin lelah.


Mengenai topik imunisasi, saya menilai bahwa itu adalah topik ter-hot sekaligus terlama yang pernah menjadi perdebatan. Dari saya sebelum menikah hingga kini anak sulung saya berusia 4 tahun.

Saya pernah berada di sebuah titik di mana saya merasa dilema dalam memutuskan apakah si kecil harus divaksinasi atau tidak. Ketidaktahuan saya akan informasi yang sesuai fakta membuat saya terombang-ambing dalam “badai pertarungan” antara dua kubu : antivaks vs provaks.

Saya menggali informasi tentang isu ini kepada teman-teman saya yang memahami bidang ini secara lebih dalam. Katakanlah mereka ada yang berprofesi dokter, perawat, penyuluh kesehatan masyarakat. Semua saya tanya satu-persatu mengenai imunisasi. Perlu apa tidak? Mengapa solusinya harus imunisasi? Apa yang terjadi jika anak tidak divaksin? Beruntun pertanyaan saya ajukan demi sebuah jawaban yang pasti.

Semua kolega yang saya tanya kebanyakan menjawab bahwa imunisasi itu perlu sebagai tindakan pencegahan penyakit yang bisa membahayakan di kemudian hari. Vaksin yang dipakai sudah melalui proses pengujian dan terbukti cukup efektif menekan beragam wabah penyakit yang bisa berakibat kematian pada bayi dan anak-anak.

Meski untuk tindakan pencegahan penyakit, bukan berarti imunisasi itu sebagai formula paling manjur untuk semuanya. Tentu saja, manusia tidak bisa melawan takdir. Imunisasi bisa menjadi salah satu cara untuk melindungi buah hati dari paparan virus, bakteri jahat yang bisa berakibat fatal di kemudian hari.

Sudah mendapat penjelasan lengkap tentang manfaat vaksinasi, herannya saat itu saya malah skeptis. Kesalahan saya adalah saya tetap mengkonsumsi wacana yang bergulir. Bagaimana dua kubu antara antivaks dan provaks di grup Facebook ini bertarung mempertahankan argumen masing-masing. Saling ngotot, saling caci maki, saling merendahkan satu sama lain, yang intinya malah membuat kebingungan saya semakin parah.

Ibarat Dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah.

Ya, saya akui ini kesalahan besar. Harusnya saya meninggalkan grup yang membahas perang opini ini. Karena bukannya tercerahkan, ujung-ujungnya anak sulung saya tidak mendapat imunisasi lengkap.

:::

Belajar dari kesalahan saya di masa lalu, saya jadi ingin berkisah. Ini merupakan cerita yang membuat saya tergugah dan membuat saya berpikir ulang tentang pencegahan penyakit untuk orang yang sayangi.

Adalah Charlotte Cleverley-Bisman, seorang gadis yang lahir pada 24 November 2003 di Waiheke Island, New Zealand. Putri pasangan Pam Cleverley and Perry Bisman ini harus merasakan amputasi dua tangan dan kaki akibat infeksi meningococcal yang sangat parah. Saat itu usianya baru 8 bulan.

Tunggu, infeksi apa tadi? Meningococcal?

Baru dengar pertama kali ini? Sama dong, saya juga. Meningococcal adalah salah satu varian dari meningitis, yakni penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bisa menyebabkan kerusakan otak dan keracunan darah.

Penyakit ini masih menjadi fokus di sejumlah negara barat karena menjadi epidemi yang menakutkan sekaligus mematikan. Kalau pun selamat dari maut, penderitanya bisa menderita cacat otak atau amputasi di bagian tubuhnya.

Kasus yang menimpa Charlotte bermula dari sang ibu yang curiga dengan bercak aneh di leher putrinya. Ia pun segera membawa bayinya ke rumah sakit untuk ditangani. Tak disangka infeksi bakteri ini sangat cepat reaksinya. Tubuh Charlotte dipenuhi bercak keungungan dan membengkak dalam hitungan menit.

Infeksi ini membuat bayi mungil ini harus merasakan prosedur medis yang sangat menyakitkan untuk menyelamatkan nyawanya. Meski harus dibayar mahal, Charlotte pun kehilangan dua tangan dan dua kakinya agar infeksi tidak menyebar ke seluruh tubuhnya.

Saat membaca kisah bayi Charlotte di sini, saya pun merenung.
Membayangkan bagaimana jika Charlotte adalah anak saya.
Membayangkan bayi saya menderita penyakit yang mematikan.
Membayangkan nyawa anak sendiri di ujung tanduk dan tidak ada yang bisa dilakukan kecuali melakukan amputasi di keempat anggota badannya.
Seperti apa rasanya, jika itu menimpa diri saya?
Sekedar membayangkan saja sudah membuat hati saya tersayat-sayat. Adakah yang bisa dilakukan untuk mencegahnya? Jika ada tindakan preventif tentu itu lebih baik sebelum terlambat, bukan?

Mungkin di antara pembaca ada yang berpikir, “hey, itu kan Charlote. Dia orang Selandia baru, sementara saya tinggal di Indonesia. Mungkinkah apa yang dia alami bisa terjadi di sini?”

Tentu saja. Kemungkinan itu selalu ada. Meningococcal hanyalah satu dari beragam varian penyakit meningitis yang menyerang sistem saraf pusat.
Beberapa penyebab meningitis adalah Streptococcus pneumoniae, Nesseria meningitides (meningococcal) ,dan Haemophilus influenzae tipe b. Selain itu penyebab meningitis bukan hanya bakteri, tetapi juga virus.

Hasil penelitian WHO sendiri mengungkap bahwa meningitis menjadi “pembunuh” anak balita yang cukup tinggi yakni 1,8 juta per tahun di seluruh dunia. Dari angka tersebut sekitar 700 ribu lebih terjadi di Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Ditambah masa inkubasi yang sangat pendek, dalam rentang waktu 24 jam hingga 48 jam, meningitis bisa berakibat fatal jika tidak ditangani secepatnya.

:::

Mengambil pelajaran dari kasus Charlotte,kini saya jadi semakin memiliki awareness atau kesadaran tentang kemungkinan bahaya epidemi yang bisa terjadi. Apa yang bisa dilakukan sebagai tindakan preventif?

  • Belajar, belajar, dan belajar. Sebagai seorang ibu saya perlu mengedukasi diri saya sendiri agar si kecil terhindar dari bakteri jahat, virus, maupun sumber penyakit lainnya.
  • Setelah mendapat ilmu, langkah selanjutnya melakukan tindakan pencegahan penyakit. Meski saya tidak menganggap bahwa imunisasi adalah satu-satunya jalan, saya menganggap bahwa imunisasi perlu dilakukan demi pencegahan. Sekali lagi perlu digarisbawahi: DEMI PENCEGAHAN.
  • Mencegah itu artinya berupaya agar potensi-potensi yang bisa membahayakan di kemudian hari bisa diminimalisir semaksimal mungkin. Seperti kita memakai helm untuk mencegah cedera di kepala jika terjadi kecelakaan.
Dan syukurlah saya jadi punya bekal berharga.

Be tough mom.
8 Juni 2016

sumber:
Makalah Meningitis pada Anak, Poltekkes Malang 2013-2014
charlottecleverleybisman.com


https://en.wikipedia.org/wiki/charlotte_cleverley-bisman
Read more

9 Mei 2015

Persiapan Belajar Anak Usia Dini dari Beragam Aspek (Bagian 3)

Artikel ini lanjutan dari postingan bagian 2 dan bagian 1.

Persiapan Belajar Anak Usia Dini dari Beragam Aspek (Bagian 3)


MEMAHAMI DUNIA

Orang-orang, dan Masyarakat


Anak-anak mampu menjelaskan tentang peristiwa masa lalu dan di masa depan dalam kehidupannya sendiri maupun kehidupan anggota keluarganya. Mereka tahu bahwa anak-anak lain tidak selalu menikmati hal-hal yang sama dan terkadang juga merasa sensitif dengan topik-topik semacam ini.

Anak-anak hendaknya memahami kesamaan dan perbedaan antara diri mereka dan orang lain serta di antara keluarganya, masyarakat dan tradisi yang ada.

Memahami Dunia Luar

Anak-anak memahami tentang kesamaan dan perbedaan terkait dengan tempat, objek, material, dan makhluk hidup lainnya.

Mereka bisa menjelaskan tentang hal-hal yang dekat dengan lingkungannya dan bagaimana lingkungan itu bisa berbeda satu sama lain. Mereka bisa mengamai hewan dan tumbuhan serta menjelaskan mengapa beberapa hal bisa terjadi dan bisa menjelaskan perubahan tersebut.

Teknologi


Anak-anak bisa mengenali jangkauan teknologi yang biasa dilakukan di sejumlah tempat misalnyadi rumah dan sekolah. Mereka menyeleksi dan menggunakan teknologi untuk tujuan tertentu.

EKSPRESI SENI DAN DESAIN


Eksplorasi Bahan dan Media

Anak-anak bisa menggunakan seni dan bereksperimen dengan benda-benda seni yang ada. Mereka bisa menggunakan berbagai variasi material, alat, dan teknik  secara amanwarna, desain, tekstur, beragam bentuk dan fungsi dari media seni.

 (baca juga : Menggambar, Salah Satu Kunci Mengembangkan Kreativitas Anak)

Menjadi Imajinatif


Anak-anak menggunakan apa yang mereka pelajari tentang media dan bahan secara original, lalu berpikir tentang kegunaan dan tujuannya. Mereka menggambarkan ide-ide mereka sendiri, pemikiran tentang desain dan teknologi, seni, role play, dan cerita.

sumber:
My book Small Talk: Simple ways to boost your child's speech and language development from birth

Read more

24 April 2015

Mengajak Anak untuk Mau Berbagi

Beberapa hari yang lalu aku mengajak anakku yang berusia 2 tahun ke masjid untuk kajian sekaligus acara berbuka bersama. Momen ini adalah satu-satunya kesempatan untuk belajar dan bersosialisasi dengan ibu-ibu muda lain.

Aku perhatikan anak-anak kecil banyak juga yang ikut di acara tersebut. Kebanyakan anak-anak itu berusia sekitar 1,5 tahun – 3 tahun. Mereka sebenarnya sama seperti anak-anak pada umumnya. Suka jajan, suka lari-lari di masjid (meski sudah dilarang), bermain dengan sebayanya, dan tingkah polah anak-anak biasanya.
Read more

4 April 2015

Sekilas Penyakit Flu

Penyakit flu memang dikenal sebagai penyakit yang banyak menyerang tubuh manusia. Siapa sih yang tidak pernah kena flu? Meski penyakit ini “pasaran” dan bisa sembuh sendiri dalam jangka waktu relatif pendek (5- 7 hari saja), namun penderitanya bisa sangat tersiksa saat mengalaminya.
Penyebab flu adalah infeksi saluran pernafasan bagian atas (mulut, trakea, larink, dan bronchospasm). Gejalanya adalah hidung meler, bersin-bersin, sesak nafas, tenggorokan sakit, dan batuk.

Pengobatan dengan antibiotik biasa terkadang tidak efektif untuk mengobati flu ini. Setidaknya da sekitar 200 jenis virus yang berbeda yang menghasilkan penyakit ini. Penyakit flu rata-rata paling sering menimpa anak-anak daripada orang dewasa. Dalam setahun setidaknya orang dewasa mengalami dua hingga empat kali flu, sementara anak-anak jauh lebih sering lagi.

Anak-anak memang mudah tertular flu dengan alasan:
  • imun yang masih lemah dibanding orang dewasa
  • sering kontak dengan ana-anak/ teman sebayanya saat bermain sehingga ikut tertular dengan mudah.

Untuk mengatasi flu ini, maka penderita disarankan untuk menjalani perawatan dengan istirahat yang cukup dan minum banyak air putih.
Read more

26 Maret 2015

Cara Membuat DIY Play-Doh (Edible & Halal)

Bikin Play-doh sendiri yuk.
Bahannya mudah dan gampang didapat, trus juga aman dimakan insya Allah.

Resep Play-Doh versi diy alias lilin malam yang bisa dibentuk-bentuk sesuka hati ini aku lihat di Facebook orang. Langsung aja aku save dan posting di sini karena postingan di sosmed kan gampang hilang/ tenggelam.

Play doh ini hasilnya nanti tidak terlalu berminyak. Selain itu juga bisa awet hingga satu minggu jika disimpan dengan cara yang benar. Setelah Play doh dipakai mainan, simpan aja di wadah plastik/ kontainer yang ditutup rapat.

Bahan
- 1 cup tepung terigu
- 1/4 cup garam
- 1 cup air
- 3 sdt air perasan jeruk nipis (pengganti cream of tartar)
- 2 sdm minyak goreng
- pewarna makanan cair secukupnya

Cara Membuat:
  1. Campur semua bahan kering dalam panci hingga rata
  2. Masukkan air sambil diaduk di atas api kecil.
  3. Masukkan perasan jeruk nipis sambil terus di aduk
  4. Masukkan minyak. Terus aduk dengan api kecil.
  5. Setelah adonan tercampur tunggu sampai nggak lengket lagi, lalu angkat dan dinginkan.
  6. Setelah adonan mulai hangat beri pewarna makanan sesuai selera. Uleni hingga rata. 

Tips:
Saat memasak adonan, jangan sampai terlalu lama. Soalnya nanti bisa kering.

Waah, kalau bikin malam sendiri kayaknya lebih hemat ya. Seru juga bisa eksperimen dengan bahan play doh versi diy tapi aman kalau tertelan (hallal juga karena nggak pakai cream of tartar yang katanya haram)

Selamat bereksperimen, moms!
Have a happy day always with your kids

sumber: Fb-nya Kharirotul Latifah
Read more

16 Maret 2015

Persiapan Belajar Anak Usia Dini dari Beragam Aspek (Bagian 2)

Persiapan Belajar Anak Usia Dini dari Beragam Aspek (Bagian 2)

Postingan ini merupakan sambungan dari bagian 1 yang mengulas tentang Aspek Personal, Sosial dan Emosional anak dalam proses belajar.


Aspek Perkembangan Fisik

1. Kemampuan Bergerak dan Kontrol

Diharapkan anak mampu menunjukkan kontrol diri dan koordinasi yang bagus baik dalam gerakan kecil maupun besar. Mereka bisa bergerak dengan percaya diri ke arah lain dan bisa mengontrol diri di ruangan dengan aman. Mereka juga diharapkan mampu untuk menggunakan peralatan dan perlengkapan secara efisien dan tepat, misalnya seperti menulis dengan pensil atau menggambar dengan krayon. 

2. Kemampuan Menjaga Kesehatan dan Perawatan untuk Diri Sendiri

Anak-anak juga perlu tahu dan mampu melakukan aktivitas berkaitan dengan kesehatan dirinya. Mulai dengan melakukan olah raga, makan makanan sehat, dan bisa mengkomunikasikan bagaimana untuk tetap sehat dan aman. Mereka perlu mengatur rutinitas atau kebiasaan baik terkait dengan dasar-dasar cara mencuci tangan yang benar, berpakaian yang bersih, dan menggunakan toilet dengan higienis.

Kemampuan Literasi

3. Kemampuan  Membaca

Anak-anak perlu belajar membaca dan memahami kalimat sederhana. Mereka perlu mengetahui makna dari kata-kata yang umum dipakai dan bisa mengucapkannya dengan akurat.
Mereka juga perlu kadangkala membaca istilah-istilah asing atau yang tidak umum dan mengetahui artinya. Mereka juga perlu belajar memahami apa yang dibaca dengan mendiskusikannya kepada orang lain.


4. Kemampuan Menulis

Anak-anak diharapkan mampu menulis kata-kata yang diucapkan dengan benar. Mereka juga perlu mengetahui kata yang umum dan yang tidak umum untuk memperkaya kosa-katanya. Mereka perlu belajar menulis kalimat sederhana yang bisa dibaca baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain.

Kemampuan Berhitung

Angka-Angka

Anak-anak diharapkan bisa menghitung dengan benar dari 1 hingga 20. Letakkan objek/ benda secara berurutan, tunjuk satu angka dan tanyakan padanya angka mana yang lebih besar atau lebih kecil dari yang ditunjuk tadi. Ajari juga tentang jumlah benda, dengan menggunakan penjumlahan, pengurangan. Biarkan anak belajar memecahkan masalah matematika dengan mendiskusikannya bersama orang lain.

Ukuran, Bentuk, dan Bangun Ruang

Ajak anak-anak untuk memahami ukuran, bentuk dan bangun ruang dengan percakapan sehari-hari. Kenalkan mereka dengan ukurang besar kecil, berat, volume, posisi, jarak, waktu, dan nominal uang untuk membandingkan jumlah dan objek benda. Mereka perlu memcahkan masalah matematis, dengan mengenali, membuat, dan mendeskripsikan pola-pola/ rumusan yang ada. Mereka juga perlu mengeksplorasi Karakteristik setiap bentuk objek dan menggunakan istilah matematika untuk mendeskripsikannya.

(bersambung)

sumber: http://blakesmalltalkblog.dailymail.co.uk/
Read more

1 Maret 2015

Persiapan Belajar Anak Usia Dini dari Beragam Aspek (Bagian 1)

Akhir-akhir ini aku lagi suka banget jalan-jalan ke blog dan situs parenting. Tujuannya karena pengen belajar lebih banyak tentang dunia anak-anak. Hasil membaca di situs-situs parenting tersebut akhirnya aku menyimpulkan beberapa aspek terkait dengan proses pembelajaran anak di usia dini.

Artinya apa? Setiap anak tentunya dipersiapkan untuk memperoleh pendidikan. Entah dengan metode homeschooling atau disekolahkan. Mempersiapkan diri sebelum menerima ilmu perlu untuk diperhatikan dengan seksama oleh orang tua mana pun. Sehingga nantinya saat si kecil mendapat pendidikan, mereka tidak mengalami kesulitan atau hambatan.


Berikut ini aspek persiapan untuk belajar di usia dini untuk anak-anak yang perlu diperhatikan oleh para orang tua atau para guru PAUD:

Aspek Personal, Sosial dan Emosional

1. Menjalin hubungan interpersonal

Anak-anak perlu diajarkan tentang bersosialisasi dan berinteraksi sosial dengan anak-anak lain dan juga kepada orang tua/ guru. Mereka perlu berkomunikasi, bekerja sama, bercakap-cakap, dan menjalin hubungan interaktif saat bermain. Mereka perlu belajar untuk saling bertukar pikiran dan mengorganisasikan aktivitas harian mereka. Mereka juga perlu menunjukkan empati saat kawan yang lain membutuhkan dan menyampaikan perasaannya.

2. Membangun Kepercayaan Diri dan Mawas Diri

Anak-anak perlu untuk mencoba beragam aktivitas yang baru. Mereka juga perlu mengutarakan kepada orang lain tentang apa yang menjadi pilihan, kesukaan, dan apa yang menarik bagi mereka. Inilah yang perlu dikembangkan agar mereka punya rasa percaya diri dengan menyampaikan pendapat/ pikirannya kepada orang lain. Mereka perlu juga dengan berani mengatakan apa yang mereka butuhkan (atau yang tidak dibutuhkan) saat beraktivitas.

3. Mengelola Perasaan dan Tingkah Laku

Anak-anak pun perlu juga diajari bagaimana mengatur perasaan mereka. Mereka perlu belajar menyampaikan bagaimana perasaan dirinya dan mengerti bagaimana perasaan orang lain.

Selain itu ia juga bisa mengetahui perilakunya maupun perilaku orang lain serta memahami konsekuensinya. Ia juga harus bisa membedakan perilaku mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak.

Sebagai rang tua atau guru PAUD harus bisa membimbing anak saat mereka dalam kelompok dan memahami aturan main saat bersama banyak orang. Mereka perlu menyesuaikan diri dan mengatur perilakunya dalam situasi yang berbeda di sebuah komunitas/ kelompok.

Aspek Komunikasi dan Bahasa

4. Mendengarkan dan Memusatkan Perhatian

Anak-anak juga sebaiknya diajari dalam bersikap di berbagai situasi yang beragam. Mereka perlu belajar cerita, mengantisipasi beragam kejadian penting, serta merespon terhadap apa yang mereka dengar dengan menyampaikan komentar, tindakan, atau pertanyaan yang relevan. Mereka perlu memusatkan perhatian terhadap apa yang diucapkan orang lain dan meresponnya dengan tepat sambil melakukan aktivitas lain.

5. Memahami 

Anak-anak perlu belajar memahami setiap instruksi yang melibatkan beberapa ide atau tindakan. Mereka perlu menjawab 'bagaimana' dan 'mengapa' tentang pengalaman mereka serta dalam memberikan respon terhadap suatu kejadian atau cerita tertentu.

6. Menyampaikan Pendapat

Anak-anak juga perlu belajar berbicara tentang pengalaman mereka secara efektif. Mereka harus bisa menunjukkan apa yang dibutuhkan oleh pendengarnya dengan menyampaikan cerita yang tepat. Cara ini bisa membantu si anak untuk mengembangkan kemampuan naratif dan mengembangkan ide/ gagasan dalam pikirannya.


Read more